Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Istri Awak Nanggala: Kalau Nanti Aku Pergi, kan Nggak Ada yang Belikan


Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Balai Anak Antasena Magelang mengirimkan Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk mendampingi keluarga prajurit Hiu Kecana, yang gugur dalam tenggelamnya KRI Nanggala-402 saat melaksanakan tugas di sekitar perairan laut utara Bali. Balai-balai yang merupakan Unit Pelaksana Teknis milik Kemensos diperintahkan untuk dapat memberikan penguatan dan pendampingan psikososial bagi keluarga ABK KRI Nanggala 402 tersebut.

“Tujuan dari pelaksananan dukungan psikososial ini adalah untuk menguatkan mental psikologis keluarga korban agar dapat melalui cobaan ini dengan kuat dan menunjukkan kepedulian pemerintah serta menegaskan bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi cobaan ini,” kata Sumarno, pekerja sosial balai anak Antasena dalam keterangannya, Selasa (27/4).

Tim LDP Balai Anak Antasena mengunjungi keluarga dari almarhum Serka (Bah) Ruswanto yang berlokasi di Dusun Candi Jaya Rt 18 Rw 05 Desa Candi, Sidoarjo, Jawa Timur. Didampingi oleh Kepala Dusun Candi Jaya dan Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Kabupaten Sidoarjo, Tim diterima oleh keluarga almarhum.

Almarhum Serka (Bah) Ruswanto meninggalkan seorang istri dan dua orang anak laki-laki yang berusia 6 tahun dan 10 bulan. Isrti almarhum, Sri Nurcahyani adalah seorang ibu rumah tangga.

Sumarno menyampaikan, kondisi istri almarhum saat bertemu dengan Tim LDP Balai Anak Antasena terlihat lemah dengan mata sembab dan berkaca-kaca. Saat Pekerja Sosial melakukan pendampingan, sang istri mengatakan jika saat ini ia mengalami kebingungan terkait kondisi dirinya dan kondisi kedua anaknya.

Pasalnya selama hidup almarhum selalu memenuhi keinginan dirinya dan anak-anaknya. Tidak pernah marah, bijaksana dan ketika libur selalu menghabiskan waktu bersama keluarganya.

Perlakuan seperti itu yang membuatnya merasa sangat kehilangan sosok almarhum. Istri almarhum juga menyampaikan kerisauannya terkait dengan anaknya yang berusia 10 bulan karena tidak dapat mengenal sosok ayahnya, serta belum tahu apa yang akan dilakukan untuk menghidupi keluarganya.

Sri mengaku mempunyai firasat mengenai kepergian suaminya itu. “Malam sebelum berangkat almarhum suami saya memaksa membelikan makanan kesukaan saya, padahal waktu itu sudah jam 12 malam dan saya bilang besok lagi saja. Tapi dia ngeyel untuk membelikan. Suami saya bilang ‘besok kan kamu mau ditinggal, kalau nanti aku sudah pergi kan nggak ada yang bisa belikan lagi kamu lele bakar’ kata suami saya,” imbuh Sri.

Sumarno lantas mengajak bercengkrama anak almarhum yang pertama, Zidane. Ketika ditanya cita-citanya, Zidan ingin menjadi Perwira seperti ayahnya. Ibu mertua almarhum, Umi Kalsum mengatakan bahwa Zidan sangat dekat dengan ayahnya.

“Mereka sangat akrab, sering gowes bareng, main bola bersama-sama, mengaji bersama-sama, bahkan Zidan sering minta dibuatkan es teh oleh ayahnya. Kata Zidan es teh buatan ayahnya yang paling enak,” ucap Umi.

Ayah mertua almarhum, Bawuni mengatakan bahwa menantunya adalah sosok suami yang sangat bertanggung jawab. Meski pendiam, tetapi almarhum sangat ceria jika bersama keluarganya.

Selain melakukan LDP, Tim juga melakukan asesmen kebutuhan dan pengumpulan data kependudukan anak-anak para ABK Nanggala 402 untuk selanjutnya akan diberikan bantuan oleh pemerintah. Anak-anak yang masih berusia dibawah 18 tahun akan diberikan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial berupa perlengkapan bayi, mainan, alat tulis, buku dan makanan atau minuman suplemen untuk anak.

Sebelumnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyampaikan kabar duka terkait tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 di kawasan perairan Bali. Hadi menyampaikan, seluruh prajurit TNI yang ada di KRI Nanggala tak terselamatkan atau telah meninggal dunia.

“Berdasarkan bukti-bukti otentik tersebut dapat dinyatakan bahwa KRI Nanggala 402 telah tenggelam dan seluruh awaknya telah gugur,” kata Hadi dalam konferensi pers di Badung, Bali.